Tanteku Hot Bgt



Ini pengalamn kisah nyata gue...sampe sekarang gue masih sering teringat ma tante yang sangat baik bagi gue dia benrnama Tante Keysha. Gue pertama kenal dia di dunia chating, setiap hari selama 1 minggu gue sering chating ma dia dan belum bertatap mu tapi gue dah liat FS nya. Dia begitu cantik dan sexy, apalagi di pic nya dia memperlihatkan dada nya yang indah dan besar banget. Makanya gue semangat chating ma dia, walaupun gue selalu menghabis kan uang saku gue buat chating ma tante tersayang. Dan setelah 1 minggu kami berjanji akan ketemu di suatu restorant di daerah kota Medan.

Saat menunggu dia datang, jantung rasanya nggak menentu, gugup banget dan ini
pertama kali gue ketemu ama tante2 yang bener sexy. Dan tiba2 ada yang memangil saya Andre ya...dan saya membalik, Wow mata saya hampir mau copot melihat wanita yang bener2 cantik dan sexy berada di depan saya.

Saat itu dia memakai baju tanktop berwarna putih dan belahan dadanya sangat kelihatan bawahan nya memakai rok mini yang bener2 mini. Setelah satu jam kami bertukar cerita, si tante ngajak jalan...saat itu kami nggak tau tujuan. Tapi kami jalanin aja kota medan sambil becanda di dalam mobil...tanpa kami sadari kami udah berada di Brastagi di daerah kota Medan. Hmmm si tante sempat kaget...koq kita ke sini ndre. Aku bingung mau jawab apa? trs tante bilang, ya udah deh kita nginap di hotel aja yah, kamu mau nggak? tanpa menolak saya langsung iya kan ajakan nya. Kami menginap di hotel yang sangat mewah. Saat memasuki kamar hotel aku sangat gugup...gue nggak tau apa yang mesti gue lakuin nih ke si tante, gue bener binggung.

Karena kami nggak membawa perlengkapan baju, kami sempatin belanja
di sekitar pingiran jalan Brastagi...si tante beli baju tidur yang sexy bgt..waduh pada saat itu penis gue terus tegang. Sesampainya di hotel gue mandi, setelah gue dah selesai mandi si tante pergi mandi juga. Setelah itu kami berdua nonton TV sambil baecanda sesekali. Tiba2 si tante bilang kamu nggak kedinginan ndre...tanpa banyak komentar si tante langsung ku peluk biar hangat. Tiba2 si tante mulai nyiumin dan jilatin kuping gue. Gue bener Horny bgt...langsung aja gue ciumin bibir nya...wow begitu lembut. Ciuman kami semakin panas dan tangan gue mulai bermain di dada montok si tante. Dada tante bener2 masih ketat n padat, tangan gue mulai masuk kedalam baju daster nya si tante dan gue memainkan puting nya yang cukup gede.D an tante Keysha mulai mendesah nggak karuan. Gue tetap memainkan puting nya sambil meremas2 buah dadanya. Tante Keysha mulai buka baju kaos gue dan celana gue, tangan tante mulai nakal maini penis gue dari luar. Dan gue juga buka daster nya tante....wow buah dada nya tante bener gede bgt dan padat puting nya yang merah jambu...hmmmm. Lansung gue lumat sambil jilatin puting nya yang bener2 mengoda....dan tangan gue satu lagi sambil meremas2 buah dadanya yang satu lagi. Tangan si tante sekarang dah masuk ke dalam celana dalam gue.




Achhhh.. Nikmatnya

Namaku Rei, saat kejadian ini usiaku baru 17 tahun. Kisah ini berawal 2 tahun lalu, karena kepindahan orangtuaku ke Bandung . Aku yang masih SMU juga harus ikut pindah ke Bandung . Sebagai warga baru seperti biasanya kami sekeluarga memperkenalkan diri dulu kepada tetangga-tetangga didaerah rumahku yang baru.

Ada satu tetangga yang membuat aku sangat tertarik, selain ramah dan baik aku juga terangsang dengan wajahnya yang cantik meskipun dari segi body tante Mirna ini kurang menarik. Tante Mirna berkulit putih, berwajah cantik dengan rambut sebahu dan berumur 35 tahun. Tante Mirna baru mempunyai anak satu, dan masih TK.

Setelah perkenalan itu ibu dan ayahku terbilang dekat dengan om dan tante Mirna ( Mirna adalah nama suaminya ). Karena kedua orangtuaku bekerja aku, sering sekali aku dikirimkan makanan-makanan dari tante Mir, dan kupikir ini kesempatan.

Suatu hari, didaerahku hujan lebat. Tiba-tiba tante Mirna datang dengan keadaan basah kuyup, memberitahukan bahwa rumahnya bocor dan aku disuruhnya melihat dan membetulkan genteng rumahnya. Aku yang sedang dalam gairah tinggi melihat ini adalah kesempatan besar. Aku masuk ke dalam rumah tante Mirna, dan baru saja masuk aku langsung memeluk tante Mirna. Tante Mirna berontak tapi aku dengan kuat terus memeluknya dari belakang, kudorong tante Mirna ke sofa dan kulucuti pakaiannya satu persatu.

"Rei, kamu mau apa jangan macam-macam rei!"bentak tante Mirna,

tapi aku yang sudah nafsu terus saja melucuti pakaian tante yang basah. Dengan cepat aku melucuti pakaian tante, dan terpampang jelas tubuhnya yang indah. Kuhisap langsung vaginanya yang merah dan minta disuntik dengan segera.

"Rei, mmmmhhhhh, geli rei. Jangan diteruskan rei, mmmmmhhhh"

keluhnya dan aku masih tetap saja kujilati vagina tante Mirna. 5 menit aku jilati vagina tante Mirna, setelah itu kupaksa tante Mirna melayani burungku dengan mulutnya sampai tante Mirna muntah-muntah karena sepertinya memang baru sekali ini saja. Dan 5 menit berikutnya aku paksa kembali tante Mirna melayani kemaluanku dengan vaginanya.

"Ah, tante vagina keset banget sih. Kan susah masukinnya !", Kemaluanku baru masuk seperempat.

"Rei jangan rei, mmmmmmhhhhhhhhhhhhh ."

"Pokoknya tante harus melayani saya sampai sore "

"Jangan Rei, aduhhhh sakit rei" kemaluanku sudah tenggelam di kenikmatan yang tiada tara.
kupercepat tempo sodokanku, dan tante Mirna menggeliat dengan keringatnya yang menetes.

"Ayo tante, mmhhhhhh"

"Mmmmmmmmmhhhhhhhhh hhhhh, reeeeeeiiii, reeeeeeeeeeeei"

dihempaskannya tubuhku, kemaluanku mengayun saja setelah lepas dari bibir kemaluan tante Mirna. Tante Mirna bangun dan berdiri dalam keadaan bugil.

"Rei kamu harus tanggung jawab, tante gak terima kalo kamu yang main di atas"

Dipegangnya burungku, dimasukkannya lagi ke dalam bibir kemaluannya. Tante Mirna merem melek menahan kenikmatan burungku yang lumayan besar.

" Rei burung kamu ueeenak banget sih, tante genjot yah! "
" Iya tante, yang cepet ya tante "

Tante Mirna terus menggenjot kemaluanku, dan sekarang aku yang merem melek.

" uhhh. rei sayang tante mau keluar "
" keluarin aja tante "
" gantian dong sayang, tante capek nih "
" tante nunging yah, biar sama-sama enak". Tante Mirna menurut yang aku bilang.

Kucari lubang anus tante Mirna, karena aku belum sama sekali merasa mau keluar. Kucoba tusukkan kemaluanku ke anusnya dengan pelan,

" rei jangan disitu sayang, tante belum pernah sayang"
" tenang aja tante dijamin enak deh!"
"rei sakit rei, ahhhhhhhhhhhhhhhhhh hh. sakit rei udah rei" jerit tante Mirna setelah kemaluanku sudah masuk setengah anus tante Mirna

" enakkan tan, kemaluanku
" heeh enak banget, tapi jangan cepet2 yah rei "

Lima menit sudah kusodok lubang anus tante Mirna, tiba-tiba terdengar suara mobil jemputan anak tante Mirna sudah kembali dari sekolahnya. Aku yang belum keluar mempercepat sodokanku sedang tante Mirna sudah 2 kali.

"sayang udahan dulu yah!, Dona udah pulang tuh!". tante Mirna melepaskan kemaluanku yang masih tegang.

"tan, saya belum keluar nih"
"masak sih rei, kuat amat sih, Ya udah tunggu tante di kamar nanti tante nyusul."
"gak mau ah" kutarik lagi tante Mirna dan sekarang vagina yang kujadikan sasaran keberanganku.

"ahhhhhhhhhhhh. terus sayang.terus. jangan dilepasin dulu ya".
tiba-tiba Donna anak tante Mirna membuka pintu.

"mama, eh mama lagi ngapain sama om rei". Donna yang ketawa melihatku dengan mamanya dalam keadaan ngentot.

"Dona kekamar dulu ya, ganti baju dulu ya.mama lagi main dulu sama om rei"
"iya sana Dona masuk dulu, ntar om rei beliin coklat deh"

Donna yang belum tahu apa-apa langsung lari kekamar dengan senangnya karena aku janji belikan cokelat.

"terusin lagi dong rei, tanggung nih"

Kuteruskan lagi permainanku, sekitar sepuluh menit kemudian aku merasakan ada yang mau keluar dari kemaluanku

"tante, rei mau keluar nih, mo bareng gak?"
"mmmmmmmmhhhhhhhhhh hhhhhh, terusin aja sayang kontol kamu enak banget sih, " tante juga mau keluar nih. mmmmmmmmmmhhhhhhhhh hhh"
"tante Mirna mmmmmmmmhhhhhhhhhhh hhh enak banget tante"

Tak lama kemudian kemaluanku terasa ada rasa hangat yang luar biasa.
"tante juga keluar rei, burung kamu enak banget ya!"
"vagina tante juga luar biasa"

Aku memeluk tante Mirna dengan erat sambil tiduran disebelahnya tanpa melepas burungku didalam vagina tante Mirna

"rei kamu udah merawanin 2 lubang tante, kamu tuh yang baru pertama kali ngerasain pantat sama mulu tante, ternyata kamu hebat banget deh"
"tante, kapan-kapan boleh minta lagi ya!"
"diatur ajalah, yang penting waktunya enak"
"makasih ya tante"

Aku dan tante Mirna berciuman sebelum pulang dan keesokan paginya kami melakukan lagi, dan terus melakukan setelah Dona dan Om Mirna berangkat. Kadang kalo ortuku mudik atau menengok kakakku yang kuliah dijakarta, tante Mirna datang kerumahku walaupun Om Mirna ada dirumah. Dengan alasan mengantar makanan, kami sempat melakukan walau kilat saja, tapi aku puas.

Ini terus kulakukan sampai pada saat tante Mirna hamil, dan menurutnya itu adalah benihku. Aku sempat melihat anak pertamaku, sebelum aku harus kuliah di Jakarta menyusul kakakku disana. Tapi kalo aku pulang ke Bandung, aku masih melakukannya dengan tante Mirna. Mungkin aku jatuh cinta pada vagina tante Mirna, dan sepertinya aku mengidap odipus complex. Karena di jakarta pun aku juga sering melakukannuya dengan tante-tante sebaya tante Mirna walaupun tak seenak vagina tante Mirna tak apalah untuk selingan aja kok. Tapi tetap saja burungku buat vagina tante Mirna. Love tante Mirna.



Ini cerita yang kualami kurang lebih 2 tahun yang lalu. Saya adalah seorang siswa SMU swasta di sebuah kota X, nama saya adalah Endy dan saya saat ini berumur 18 tahun. Saya mempunyai suatu kebiasaan untuk melakukan onani, yah mungkin satu kali untuk satu hari. Saya mempunyai seorang teman, bisa dikatakan dia merupakan teman saya yang terbaik, karena hampir setiap hari kami selalu bersama. Saya memang sering main ke rumahnya dan tentu saja, saya sering berjumpa dengan mamanya. Dapat dikatakan mamanya saat ini kira-kira berusia 36 tahun, tetapi tubuhnya terlihat bagaikan seorang gadis yang berusia 20 tahunan. Yah montok dan padat sekali dan saya memanggil mamanya Tante Nita. Tentu saja saya sering melakukan onani dengan mengkhayalkan mama kawanku ini.

Suatu hari, kami bersama teman-teman sekolah lainnya akan melaksanakan pesta barbeque dan tempat kami berkumpul merupakan rumah dari kawanku ini. Karena masih menunggu teman kami yang belum hadir, maka saya bermain di rumah kawanku ini dengan permainan dadu dengan yang lainnya. Mungkin karena kebetulan saya melempar dadunya terlalu kuat, maka dadu itu jatuh ke arah kamar mama temanku. Lalu dengan malas dan ogah-ogahan, saya bangkit untuk mengambil dadunya. Tetapi saat akan mengambil dadunya, saya melihat suatu pemandangan yang membuat saya sangat terangsang. Saya melihat Tante Nita hanya memakai celana dalamnya saja, langsung saja kemaluan saya terbangun dan saya segera berjalan keluar sambil berusaha menenangkan diri. Sambil bermain dadu kembali, saya mengkhayalkan bentuk
tubuh Tante Nita yang membuatku sangat terangsang. Tetapi sesaat kemudian, Tante Nita keluar dari kamarnya. Dengan serempak, kami memanggilnya dengan panggilan Tante, tetapi saya tidak berani untuk menatapnya, yah mungkin karena saya malu dan agak sedikit takut mengingat kejadian tadi.

Karena temanku sudah memanggil, maka kami menyudahi permainan dadu kami dan kami mulai bergerak ke luar rumah. Sesaat sampai di luar rumah, saya melihat Tante Nita sedang berdiri sambil memandang ke arahku, lalu dia menyuruhku untuk menemaninya ke rumahnya yang lain untuk sekedar mengambil barang bekas. Dengan gugup saya menjawab dengan jawaban "Ya", lalu Tante Nita mengambil kunci rumahnya dan kami pun berangkat. Sambil mengikutinya dari belakang, saya memperhatikan goyangan pinggulnya dan tentu saja saat ini saya sudah sangat ingin melakukan masturbasi, tetapi karena belum memiliki kesempatan, maka saya diam saja sambil mengkhayalkan sedang bersetubuh dengan Tante Nita.

Sesampainya di rumah tersebut, saya melihat rumah tersebut sudah lama tidak dihuni, mungkin saja karena Tante Nita baru saja pindah ke rumah baru. Kemudian kami pun masuk ke dalam. Dengan hati-hati saya memperhatikan sekeliling rumah tersebut. Memang agak berdebu tetapi masih terlihat kalau rumah tersebut rapi.

Sesampainya di ruang tengah rumah tersebut, Tante Nita bertanya kepadaku,
"Apa yang kamu lihat waktu kamu mengambil dadu yang terjatuh itu tadi..?"

Dengan terkejut saya menjawab, "Saya tidak melihat apa-apa, Tante..."

Lalu Tante Nita berkata, "Kamu jangan bohong, nanti saya laporkan bahwa kamu berbuat yang tidak senonoh pada Tante.."

Dengan terbata-bata, saya menjawab bahwa saya melihat Tante sedang ganti baju, tetapi saya tidak melihatnya dengan jelas.

Lalu Tante Nita bertanya lagi, "Apakah kamu ingin melihatnya sekali lagi..?"

Seperti mendapat durian runtuh, maka saya menjawab, "Kalo Tante Nita mengijinkan, saya mau Tante."

Sesaat Tante Nita diam, lalu dia menyuruh saya untuk mendekat. Dengan hati-hati, maka saya mendekat padanya, lalu Tante Nita menarik tangan saya dan mencium bibir saya. Tentu saja saya balas dengan ciuman kembali, sedangkan kedua tangan saya diam saja karena sesungguhnya saya dalam keadaan yang sangat tegang.

Berbeda dengan tangan Tante Nita, tangannya mulai memegang kejantanan saya dan satunya lagi mulai meremas pantat saya. Kemudian Tante Nita mulai membuka resluiting celana saya dan mulai mengocok kemaluan saya. Saya merasakan kenikmatan karena tangan Tante Nita sangat lembut dan sangat berpengalaman. Karena terbawa perasaan nikmatnya, mata saya mulai tertutup dan mulai menikmati permainan Tante Nita. Belum berlangsung lama permainan kami, Tante Nita menghentikan permainannya, tentu saja hal ini membuat saya keheranan.

Lalu saya mulai berani menatapnya dan saya bertanya kepadanya, "Tante, bolehkah saya memegang payudara Tante..?"

Sambil sedikit tersenyum, Tante Nita berkata, "Terserah kamu sayang..."

Lalu tangan saya mulai meraba payudara Tante, tetapi saya merabanya dari luar saja karena masih tertutup oleh baju dah BH-nya.

Karena merasa kurang puas, maka saya bertanya lagi, "Tante, bolekah saya membuka baju tante..?"

Dengan sedikit kesal, Tante Nita menjawab, "Kamu boleh melakukan semua yang ingin kamu lakukan, tubuh saya sekarang ini adalah milikmu sepenuhnya."

Dengan terbata-bata saya menjawab, "Terima kasih Tante..."

Lalu Tante Nita berkata lagi, "Panggil saya Nita saja, tidak usah lagi sebutkan Tantenya."

Lalu saya menjawab, "Ya, Tante.., eh, maksud saya Nita."

Permainan terus berlanjut, saya mulai membuka kancing baju Tante Nita. Terlihatlah dua bukit kembar yang indah sekali, mungkin ukurannya sekitar 36A. Lalu saya mulai meremas dan mencium payudara Tante Nita dan Tante Nita mulai merasakan kenikmatan dan mengeluarkan suara desahan.

"Uuhhh... ahhh..,"



Saya mulai membuka ikatan BH-nya dan menyembullah payudaranya. Dengan liar bibir saya mulai menghisap payudara yang di sebelah kanan, sedangkan tangan saya meremas dengan keras payudaranya yang di sebelah kiri. Saya terus menghisap puting payudara Tante Nita kurang lebih 5 menit lamanya. Kemudian saya melepaskannya dan saya melihat putingnya sudah berwarna kemerah-merahan agak hitam.

Kemudian Tante Nita mulai turun dan berjongkok di hadapan kemaluan saya. Dengan cepat dia menurunkan celana jeans saya sekaligus dengan celana dalam saya, lalu dia pun membuka mulutnya dan memasukkan kemaluan saya ke mulutnya. Hal ini membuat saya terkejut, kemudian Tante Nita mulai menghisap kemaluan saya dan memainkannya di dalam mulutnya yang membuat saya lupa diri. Tangan saya mulai menjambak rambut Tante Nita dan kaki saya mulai menjinjit karena saya merasakan kenikmatan yang hebat. Kurang lebih 10 menit kemudian, saya merasakan ada yang mendesak keluar seperti saat saya sedang melakukan masturbasi dan saya mulai mengerang, "Aduh, Tante Nita... saya sampai nih, uh... uhhh... uuuhhh..."

Dan Tante Nita mulai mempercepat permainannya dan akhirnya saya mengeluarkan cairan sperma saya di dalam mulutnya Tante Nita. Saya merasakan Tante Nita menghisap habis seluruh sperma saya dan menelannya. Dalam sisa-sisa kenikmatan, saya melihat Tante Nita bangkit dan mencium bibir saya, yang tentu saja saya balas dengan ciuman yang hangat dan liar.

Hanya dalam hitungan beberapa detik, Tante Nita menekan kepala saya dan saya pun mengerti apa yang diinginkan Tante Nita. Saya mulai berjongkok dan Tante Nita berganti posisi dengan tubuhnya bersandar pada dinding rumah. Dengan perlahan saya menurunkan celana Tante, lalu saya melihat CD warna biru langitnya Tante Nita dengan segunduk daging yang menonjol di antara kakinya, selain itu saya juga melihat CD-nya mulai basah oleh cairan kemaluannya.

Tante Nita berkata kepada saya, "Endy, cepat dong... Tante sudah nggak tahan nih..."

Dengan tenang saya menjawab, "Iya Nita..," dan saya mulai memeloroti CD-nya. Saya melihat rambut kemaluan Tante Nita yang sungguh subur tetapi terawat dengan rapi.

Sejujurnya, saya sungguh tidak menyangka keindahan alat kelamin wanita ini berbeda dengan yang pernah saya lihat di film-film blue bahkan sangat berbeda. Dengan perlahan-lahan saya mulai menyapu kemaluan Tante Nita dengan lidah saya. Sesudah rambut kemaluannya basah oleh air liur saya, saya mulai memasukkan lidah saya di antara kemaluannya dan saya menemukan sebuah bijian kecil. Dengan lidah saya, saya mulai menjilati biji tersebut, hal ini membuat Tante Nita mengerang keenakan.

"Endy.. terus.. Tante merasa nikmat sekali.. ah... ah... uhhh..." desahnya.

Karena merasakan Tante Nita yang mulai terangsang, maka saya mempercepat jilatan saya pada bijian tersebut kurang lebih 6 menit Tante Nita menjerit sambil memegang dan menjambak rambut saya.

"Uhhh... Tante sampai nihhh... ayo terus Ndyyy... ah... ehmmm... nikmat sekali."

Lalu saya melepaskan permainan lidah saya dan saya melanjutkan dengan tangan saya yang mulai menggosok dan mengocok kemaluan Tante Nita karena saya merasa jijik untuk menghisap air kemaluan wanita tetapi dengan cepat Tante menarik kepalaku dan mengarahkannya kembali ke kemaluannya. Karena ingin memuaskan Tante Nita, maka saya mulai memainkan lidah saya di kemaluan Tante Nita.

Akhirnya Tante mengejang dan berteriak, "Ahh... ahhh... auuu... ehmmm... saya sampai.. terus Ndyyy... uhh... ahhh... aahhh..."

Saya merasakan ada cairan yang keluar dari kemaluan Tante, maka saya menghisap seluruh cairan tersebut sampai kering dan kemudian saya menelannya.

Karena melihat Tante Nita sedang merasakan sisa-sisa kenikmatannya maka saya bangkit dan mencium bibirnya, sedangkan tangan saya meremas payudaranya.

Lalu Tante Nita membuka matanya dan tersenyum nakal sambil berkata, "Endy, kamu kurang ajar sekali, bahkan dengan mama kawan baikmu pun kamu berani berbuat begitu."

Dengan terkejut saya berkata, "Tapi Tante, saya tidak bermaksud begitu, kan tante yang..."

Belum selesai saya berkata Tante Nita memotongnya dan berkata, "Saya tahu kamu tidak bermaksud begitu tapi kamu sudah melakukannya jadi ya… nggak apa-apa deh... tante suka dengan permainan kamu. Lain kali kamu harus melakukannya dengan Tante lagi. Kalo tidak.. Tante akan laporkan kamu sama yang lainnya!"

Lalu saya tersenyum dan berkata, "Tante nakal sekali, saya sampai terkejut, tapi Tante jangan khawatir, lain kali saya akan melayani Tante lagi, saya janji Nita."

"Kamu harus ingat janji kamu yah... sekarang kita harus berpakaian kembali, lalu kamu kembali ke teman kamu... kan kamu mau barbeque kan..?" kata Tante Nita kemudian yang sempat membuatku terkejut seperti sadar kembali kalau kami sudah meninggalkan acara pesta.

Dengan cepat saya mulai membetulkan pakaian saya dan merapikan rambut saya sambil bertanya kepada Tante Nita, "Tante.., kita sudah pergi berapa lama sih..? Kalo ketahuan gimana, Tante..?"

Dengan tenang Tante menjawab, "Kamu jangan khawatir, Tante akan mengaturnya supaya aman."

Lalu kami pun kembali ke rumah Tante Nita yang baru meskipun dalan hatiku masih ada sedikit keraguan. Sesampainya disana, Tante berkata bahwa kami membongkar seluruh rumah untuk mencari kunci lemarinya sehingga memerlukan waktu setengah jam. Sambil bernafas lega, saya menoleh ke arah Tante Nita dan melihatnya tertawa, sungguh menggoda sekali.

Beginilah awal kisahku dengan Tante Nita yang merupakan mama dari kawan baikku. Di pesta barbeque bersama temanku, saya merasa sangat tidak tenang bahkan terasa ada yang ingin dikeluarkan. Akhirnya saya pun melakukan masturbasi di kamar mandi, tentu saja sambil mengkhayalkan Tante Nita. Dalam hati saya tentu saja sangat ingin untuk melakukannya dengan Tante Nita, tetapi yah...

Hari ini sudah lewat 2 minggu sejak kejadian di malam pesta barbeque itu. Saya sendiri sudah tidak sabar dan frekuensi onani saya malah semakin meningkat, bahkan bisa tiga kali dalam satu hari. Tetapi siang harinya, ketika baru pulang dari sekolah, sesampai di rumah dan duduk di kursi sambil melepas sepatu, saya menggerutu, "Aduh, hari ini kok panas sekali..."

Tetapi tiba-tiba saya mendengar pembantu saya berteriak, "Mas Endy ada telpon tuh..!"

Lalu sambil malas-malasan saya bangkit dan mengambil telepon sambil menjawab, "Halo..?"

"Ini Endy yah..?" tanya orang lawan bicara saya.

Saya jawab, "Iya, disana siapa yah..?"

"Kamu udah lupa yah ama saya..?" dengan logat memancing.

Karena merasa dipermainkan, saya mulai emosi dan menjawab, "Disana siapa sih kalo nggak mo bilang lagi saya tutup teleponnya nih..!"

"Kok marah sih..? Nanti tante laporkan kamu lho dan nggak tante kasih kamu kenikmatan lagi." kata lawan bicara saya lagi.

Mendengar kata-katanya yang terakhir tadi, saya jadi teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu dan saya langsung menjawab lagi, "Oh, ini Tante Nita yah..? Sori Tante gua lagi nggak mood nih... Tante sih main-main aja..."

Lalu Tante Nita berkata "Nggak mood yah..? Jadi sama Tante juga nggak mood dong..? Tadinya Tante mo ajak kamu ke rumah Tante nih, abisnya lagi sepi nih… tapi nggak jadi deh.."

Dengan cepat saya memotong, "Bentar dulu Tante, kalo Tante sih gua jadi mood lagi nih, emang teman saya (maksudnya anak Tante Nita yang menjadi teman baik saya) nggak ada di rumah yah..?"

next..


"Kamu tenang aja deh... pokoknya dari sekarang (saat itu jam 12:30) sampe nanti sore jam 5 kita aman deh… jadi datang nggak..?" tanya Tante Nita.

Tentu saja saya menjawab, "Jadi dong Tante.. bentar lagi saya kesana Tante, Tante tunggu yah..!"

Setelah itu, saya segera menutup teleponnya seperti tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Kemudian saya segera berlari ke kamar dan ganti baju, terus segera keluar rumah menuju rumah Tante Nita, karena dari rumahku ke rumah Tante Nita memerlukan waktu sekitar 15 menit jalan kaki. Karena ingin cepat tiba disana, maka saya naik angkot (angkutan umum perkotaan) saja.

Sesampainya di rumah Tante Nita, saya segera memutar ke belakang karena lewat pintu samping rumah Tante Nita lebih aman dan sepi. Kemudian dengan perlahan saya mengetuk pintu dan terdengar Tante Nita menjawab, "Iya, bentar..." lalu Tante Nita membuka pintu dan mempersilakan saya masuk.

Di depan saya, Tante Nita berpakaian kaos oblong dan celana pendek putih. Berpenampilan seperti itu tentu saja sama dengan menampakkan BH dan CD-nya yang berwarna hitam secara sengaja kepada saya. Dalam pikiran saya mungkin Tante Nita sengaja membuat saya terangsang, tetapi saya berusaha tetap tenang, yah.. stay cool deh pokoknya.

Setelah itu, Tante Nita menyuruh saya mengikutinya dan saya pun berjalan. Tetapi begitu melihat pinggulnya yang bergoyang, saya tidak tahan lagi, segera saya menarik Tante Nita dan menciumnya. Tante Nita pun segera membalas ciumanku dan tangan saya segera bergerak untuk membuka bajunya.

Bersamaan dengan itu, Tante Nita berkata, "Jangan di sini dong sayang..!"

"Dimana Tante..?" tanya saya.

"Di kamar Tante aja..." kata Tante Nita.

Lalu saya pun segera menarik tangan Tante Nita dan berkata, "Jadi, tunggu apa lagi Tante..?"

Setelah sampai di kamar Tante Nita, saya segera merebahkannya. Di mata saya, Tante Nita tampak sangat anggun dan menggairahkan. Dengan tidak membuang waktu lagi, saya segera menciumnya dan ciuman saya dibalas Tante Nita dengan hangat. Sementara itu tangan saya segera bergerak aktif untuk meremas buah dada Tante Nita. Tiba-tiba Tante Nita mendorongku dan dengan terkejut saya bangkit, tetapi kemudian Tante Nita segera menarikku dan naik di atas tubuhku sehingga posisi saya sekarang adalah Tante Nita di atas tubuh saya. Saya segera membuka baju Tante Nita sehingga tampaklah buah dadanya yang masih dibungkus oleh BH hitamnya. Saat itu Tante Nita menunduk sehingga sekarang buah dadanya tampak di depan mataku dengan sangat jelas.

Untuk menghemat waktu dan karena memang saya juga sudah sangat terangsang, maka saya segera melumat payudara Tante Nita dan melepas BH hitamnya.

"Aduh enak sekali, ahhh... uh... sttt..." desahnya yang menandakan Tante Nita sudah terangsang.

Karena sudah terangsang maka Tante Nita segera melepas baju dan celana saya, sehingga saya hanya tinggal memakai CD saja. Kemudian saya berguling ke samping sehingga posisi saya sekarang di atas Tante Nita, lalu saya segera merangkak turun dan melepas celananya sehingga tampaklah pemandangan di depan wajah saya sebuah surga kenikmatan yang masih terbungkus oleh kain hitam. Tanpa menunggu aba-aba darinya, saya langsung melepaskan CD-nya Tante Nita dan tampaklah kemaluan Tante Nita yang terawat dengan rapi. Sungguh sangat indah dan berbeda dengan yang pertama kali saya lihat dulu.

Dengan perlahan saya menjilati permukaan vaginanya dan Tante Nita pun segera mengerang.

"Aduh, nikmat sekali... sungguh... geli tapi... ahhh... uhhh... terus Endy..."
Segera saya menaikkan permainan saya sehingga tidak lama kemudian Tante Nita pun menjerit, "Aduh saya sampai Ndyyy... segera keluar... ahhh..."

Lalu saya segera menghisap bijian di kemaluan Tante Nita sehingga saat cairan kemaluan Tante Nita keluar, segera saya hisap habis dan menelannya.

Dalam sisa kenikmatannya, Tante Nita berkata, "Endy... biarkan Tante Nita istirahat yah..? Nanti Tante Nita baru melanjutkannya kembali."

Saya segera menjawab, "Iya Tante..."

Setelah beristirahat 15 menit, Tante Nita mulai bangkit dan segera melepas CD saya. Tampaklah kemaluan saya yang masih dalam posisi setengah tiang. Tante Nita segera memasukkannya ke dalam mulutnya dan menjilatinya. Di dalam mulut Tante Nita, kemaluanku segera mengeras hingga dalam posisi yang siap tempur. Tante Nita sungguh sangat berpengalaman dalam menjilati kejantanan pria yang dengan cara menghisap dan kadang-kadang mengigitnya dengan perlahan. Hal ini membuatku sangat terangsang. Karena sudah tidak tahan lagi, maka saya segera menarik tubuh Tante Nita ke atas dan dan membalikkannya.

"Tante Nita, saya sudah tidak tahan lagi, sekarang saya masukkan yah Tante..?" tanya saya yang sudah merasa sangat terangsang.

Tante Nita menjawab, "Terserah kamu Ndyy.., tapi hati-hati yah soalnya punya tante udah lama nih nggak digunakan.."

Dengan pelan dan hati-hati saya mengarahkan kepala kemaluan saya ke dalam lubang kemaluan Tante. Kepala kemaluan saya mulai menyentuh bibir kemaluan Tante Nita, lalu saya menekannya sehingga kepala kemaluan saya sudah terbenam ke dalamnya.

Tante Nita segera menjerit, "Aduh... sakit sekali... pelan-pelan Ndy..."

Tetapi saya sudah tidak perduli lagi, saya segera melanjutkan aksi saya dengan menekan kemaluaan saya lebih dalam lagi dan kepala kemaluan saya juga mulai terasa perih karena ini adalah pertama kali saya melakukan hubungan intim. Saya tetap menekan batang kemaluan saya sehingga tidak lama kemudian, seluruh kemaluan saya sudah terbenam dalam kemaluan Tante Nita.

Tante Nita lalu mengerang, "Aduh sakit sekali... biarkan tetap di dalam Endy, aduh... ahhh... ehmmm... uh..."

Setelah terdiam hampir 5 menit, saya segera menggoyang pinggul saya dengan naik turun secara berirama dan Tante Nita pun mengimbanginya dengan goyangan pinggulnya yang membuat saya merasa sangat keenakan.

Tante Nita tiba-tiba mengerang secara tidak jelas, "Aduh... sakit sekali, tapi enak sekali, terus Endy..."

Saya sudah tidak memperdulikan Tante Nita dan hanya terus memacu kemaluan saya untuk mencapai kenikmatan.

Tidak lama kemudian, setelah 8 menit, saya mendengar Tante Nita menjerit kembali, "Aduh... saya sampai Ndyyy... akan segera keluar nih..."

Saya menjawabnya, "Sebentar lagi Nita, sebentar lagi... saya juga hampir sampai nih..."

Tidak lama, Tante Nita tiba-tiba mengejang dan saya merasakan ada cairan hangat di dalam kemaluan Tante Nita dan Tante Nita mengerang lagi, "Aduh... ahhh... aku sampai Endy... nikmat sekali..."

Tidak sampai disitu, selang beberapa detik, saya merasa juga ada yang mendesak keluar dari kemaluan saya dan akan segera meledak. Rupanya saya juga telah mencapai kenikmatan dunia dan saya menjerit,
"Saya sampai Tante
eh... ahhh... nikmat sekali"

Lalu saya segera jatuh dan berbaring di
samping tubuh Tante Nita sambil merasakan sisa kenikmatan yang telah kami capai berdua.

Setelah beristirahat, kami melakukannya lagi 3 kali dalam tempo yang cepat. Tante Nita dan saya sama-sama mencapai puncak kenikmatan 3 kali.

Setelah mandi dan pikiran kami sudah tidak terpengaruh nafsu lagi, Tante Nita berkata padaku, "Tante Nita minta maaf Endy... tadi Tante Nita telah merenggut keperjakaan kamu... sungguh Tante Nita minta maaf.."

Tetapi saya segera berkata, "Tidak apa-apa Tante, saya rela kok menyerahkannya pada Tante, sungguh saya sangat menyukai permainan tadi. Tapi Tante Nita harus janji kalo Tante Nita lain kali harus memberikan kenikmatan yang sama lagi kepadaku..!"

Sambil tersenyum, Tante Nita berkata, "Iya... Tante sangat senang dengan permainan tadi, Tante janji, Tante bersedia melayani kamu lagi, tapi kamu juga harus membuat Tante merasa keenakan seperti tadi.." dan saya mengiyakannya.

Hubungan kami hampir berlangsung selama 2 tahun, tetapi kami melakukannya dengan cara-cara yang tradisional. Saya maupun Tante Nita tidak menyukai gaya-gaya yang terlalu berani seperti gaya anjing maupun yang lainnya. Hubungan kami sekarang meskipun belum diputuskan berakhir, tetapi kami hampir tidak pernah berjumpa lagi, karena saya sudah melanjutkan kuliah di luar kota yang tentu saja dengan anaknya Tante Nita. Hubungan saya dengan Tante Nita sampai sekarang tetap menjadi rahasia kecil kami. Jika saya liburan dan pulang ke kampung halaman saya, Tante Nita selalu meminta bagiannya dan saya pun dengan senang hati melayaninya.

Ini merupakan pengalaman yang saya alami sendiri. Meskipun banyak yang kurahasiakan disini, tetapi cerita ini adalah benar-benar terjadi.

Selesai-----







Sex Kilat

SEKS KILAT DI KANTOR BERSAMA.......


Namaku Surya. Aku adalah seorang manajer di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Walaupun aku sudah lama bekerja tetapi aku masih melajang. Kisah ini diawali saat aku bertemu seorang mahasiswi yang sedang magang di kantorku. Mahasiswi tersebut bernama Dini. Aku tidak begitu tahu kuliah apa yang ia ambil, tetapi ia bekerja sebagai sekretaris di kantorku.

Adapun Dini adalah gadis yang sangat manis, berkulit putih layaknya wanita keturunan Chinese, memiliki tubuh langsing bak gitar, rambutnya berwarna hitam kecoklatan dgn panjang sebahu, dan raut wajahnya mirip-mirip Dian Sastrowardoyo. Penampilan Dini sangat menarik perhatian pria2 di kantorku, karena dia berpenampilan layaknya mahasiswi di kampus. Ini menjadi angin segar tersendiri untuk kami para pria di kantor .

Suatu hari Dini datang ke ruanganku untuk meminta tanda tanganku. Aku terkejut melihat penampilannya yang seksy sekali. Ia mengenakan kaos hitam lengan pendek yg sangat ketat, rok mini berbahan jeans yg di atas lutut, dan sepasang sepatu hak tinggi. Aku bisa melihat bentuk payudaranya yg membusung dari balik kaos ketat itu dgn jelas dan juga pahanya yg putih mulus itu bisa kupandangi sepuasku.

Dini masuk ke ruanganku dan menyerahkan beberapa dokumen untuk kutandatangani. Saat ia berada di dekatku, tercium harum semerbak dari tubuhnya yang sedikit2 mulai merangsang penisku. Kulihat Dini agak tegang, jadi kupersilakan ia duduk di depan mejaku. Sambil pura2 baca dokumen, aku mulai sedikit2 bicara dengannya, basa basi layaknya atasan dan bawahan, sambil saling berkenalan.

"Kamu kok sering banget pakai baju itu sih?" tanyaku pada Dini.

Dini jadi tersipu malu mendengar pertanyaanku seraya menjawab,

"Habisnya kata temen2 aku keliatan cantik kayak model kalo aku pakai baju ini. Memangnya kenapa pak?".

"Ngga apa2 kok, saya juga suka ngeliat kamu berpakaian seperti ini, betul2 cantik kayak model.", ujarku padanya.

"Bapak bisa aja ah" tukas Dini sambil tersipu malu.


Kuberanikan diri bertanya lebih jauh padanya,

"Din...kamu udah punya pacar belum?".

"Sudah pak."jawab Dini.

Aku agak kecewa mendengarnya, tapi aku terus berusaha memancingya untuk bicara ttg seks.

"Beruntung sekali orang yg jadi cowo kamu, dia pasti bahagia sekali bisa berhubungan seks dengan cewe seseksy kamu" ujarku sambil bercanda.

Dini tiba2 terlihat sedih, ternyata dia belum pernah sekalipun berhubungan seks dgn pacarnya dan hal itu membuatnya malu di hadapan teman2nya di kampus yg sudah pernah berhubungan seks dgn pacar masing2 dan pacar Dini juga orangnya sangat alim shg sulit diajak ngeseks. Aku hanya menggangguk saja mendengar penuturannya. Terlihat hasrat Dini utk merasakan nikmat duniawi, tetapi pengetahuannya ttg seks juga masih tergolong dangkal.

"Pak, temen2 saya bilang seks itu nikmat. Bener ga sih?", tanya Dini padaku.

Aku sempet terkejut mendengar pertanyaannya, lalu kujawab,

"Bener, temen2 kamu itu bener. Seks itu mang nikmat kok, temen2 saya juga bilang begitu. Saya sendiri juga blom pernah nyoba sih".

Dini terlihat makin sedih, menyadari ketidak mampuan dirinya dalam berhubungan seks. Kuhibur ia sejenak, sambil kuajak bercanda dan berkata,

"Gimana klo kamu coba ML sama saya skrng disini, nanti saya ajarin teknik2nya deh biar cowo kamu bisa tunduk ama kamu di atas ranjang, bahkan bisa aja cowo kamu yang ketagihan nanti" .

Dini terlihat gelisah, "Gimana nanti klo ketauan/diintip orang2 sini pak?", tanyanya padaku.

"Tenang, kita seks kilat aja, sekitar 10-15 menitan", ujarku.

Dini pun menerima tawaranku, dan akupun bersorak kegirangan dalam hati.

"Kesempatan bagus nih", ujarku dalam hati. Kebetulan setiap ruang untuk direktur dan manajer di kantorku ada toilet pribadi yang terpisah dgn toilet umum. Kutuntun Dini masuk ke dalam toilet pribadi dalam ruanganku, dgn maksud agar suara kami tak terdengar ke luar.

Aku segera mengunci pintu toilet dari dalam, seraya mulai memeluk Dini. Lalu aku duduk di atas kloset dan kusuruh Dini duduk di atas pangkuanku, dgn posisi payudaranya menghadap wajahku. Sejenak kunikmati harum tubuhnya, sambil menjamah2 kaos ketatnya yg hitam legam itu. Lalu aku menyibakkan rok mininya yg terbuat dr jeans itu, shg terlihatlah paha putih mulus dan CD Dini yang berwarna hitam. Karena ini seks kilat, maka aku hanya memelorotkan CD Dini sedikit, lalu kuselipkan penisku pada CD Dini, menuju vaginanya yang masih berbulu jarang itu.

Tanpa kesulitan, aku berhasil mencapai 'target', penisku sudah menancap pd vagina Dini. Kedua tanganku memegang pinggul Dini dan menggerakkannya ke atas-bawah. Nikmat sekali rasanya, dan raut wajah Dini menunjukkan bahwa ia sangat menikmati perhelatan ini, padahal ini pertama kali untuknya. Desahan2 Dini menjadi makin tak terkendali, pertanda dirinya sudah tenggelam dalam nikmat duniawi. Sekali2 ia menjambak rambutku dan menekan kepalaku shg wajahku menempel di atas payudaranya, sambil kujilati dan kuhisap payudara yg tertutup kaos ketat itu. Kulumat bibir Dini dengan maksud utk meredam suara desahannya, sengaja kulepaskan kedua tanganku dari pinggulnya, dan pinggul Dini sudah bergerak naik turun dgn sendirinya. Lama kelamaan pinggul Dini bergerak tak beraturan, seperti penyanyi dangdut lagi goyang pinggul.

Kuselipkan kedua tanganku ke dalam kaos ketat Dini, melewati BH nya, dan akhirnya memegang payudaranya yang kencang dan tanpa dilapisi apapun. Nikmatnya rasanya sewaktu kuremas payudara dan putting-nya yang menegang, sepertinya Dini juga terbawa sansasi kenikmatan permainan cinta kilat ini. Tarikan nafasnya semakin tidak karuan dan semakin kencang. Tak lupa tanganku menjamah bagian2 tubuh Dini yg lain seperti pantat, paha, kaki, dll. Kuangkat kaki kiri Dini dgn tanganku sekitar 60 drajat, lalu kujilati pahanya yg mulus. Kadang aku kembali melumat bibirnya bila ia mulai mendesah tak karuan.

"ahh..uhhh...ohhh..pak nikmatya......", Dini menjerit kecil saat penisku semakin cepat bergerak keluar masuk kedalam vaginanya. Penisku sudah becek sekali krn terus berada dlm vagina Dini yg basah dan nikmat itu.

Tak terasa 15 menitpun sudah berlalu. kami belum sempat orgasme, tetapi paling tidak bisa merasakan nikmat duniawi dlm sekejap mata. Kusadarkan Dini yang sudah larut dlm nikmat duniawi itu. Dini yg tersadar jadi tersipu malu krn sadar dirinya sudah seperti wanita murahan saja. Kucoba mancabut penisku yg dijepit vagina Dini dr tadi. Awalnya sulit krn godaan utk terus lanjut, tetapi akhirnya bisa setelah berhasil melemaskan penisku. Dini buru2 mengencangkan celana dalamnya dan aku merapikan celana panjangku ,lalu kubantu mengeringkan kaos ketat Dini yg basah krn ludahku tadi. Untung saja ludahku yg menempel pada paha Dini sudah kering.

Aku pun keluar lebih dulu dr toilet untuk mengecek keadaan di luar ruang kantorku. Kebetulan banyak karyawan sedang makan siang, jadi keadaan relatif aman.

"Kapan2 kita lanjutin lagi deh yg tadi, tapi di luar kantor. Gimana, seks itu nikmat kan?", ujarku pada Dini.

Dini hanya mengangguk sambil tersenyum malu. Lalu Dini pun segera keluar dr ruanganku dan kembali ke meja kerjanya. Sejak kejadian ini, aku dan Dini sering curi2 kesempatan di kantor untuk melakukan seks kilat, mumpung Dini masih magang di kantorku.